Kamis, 23 April 2020

PERBANYAKAN TANAMAN

Belajar bersama okulasi bersama KTH Ijo Lestari Desa Pohijo Sampung

Tanaman dapat berkembangbiak secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan tanaman secara generatif yaitu pebanyakan tanaman melalaui proses perkawinan antara gamet jantan dan betina. Sedangkan perbanyakan tanama secara vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun. Masing-masing perbanyakan tanaman baik secara vegetatif maupun secara generatif memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam hal ini diperlukan kepiawaian petani dalam menerapkannya. Sehingga tanaman yang diusahakan dapat berkembangbiak seperti yang diharapkan
  1. Perbanyakan Generatif
Perbanyakan tanaman dengan biji (generatif) terutama dilakukan untuk penyediaan batang bawah yang nantinya akan diokulasi atau disambung dengan batang atas dari jenis unggul. Perbanyakan dengan biji juga masih dilakukan terutama pada tanaman tertentu yang bila diperbanyak dengan cara vegetatif menjadi tidak efisien (tanaman buah tak berkayu).
Beberapa tahapan perbanyakan generatif :
  1. Pemilihan biji untuk bahan perbanyakan
  2. Menyemaikan biji dalam wadah persemaian
  3. Pemindahan bibit biji dalam bedeng persemaian
  1. Perbanyakan Vegetatif
        Beberapa teknik perbanyakan vegetatif :
  1.  Sambungan
Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama.
Manfaat teknik sambungan pada tanaman :
  1. Memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman
  2. Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik
  3. Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi
2.     Okulasi
Okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas (entres).
4.               3.   Penyusunan
Istilah penyusuan (approach grafting) merupakan cara penyambungan di mana batang bawah dan batang atas masing-masing tanaman masih berhubungan dengan perakarannya. Keuntungan dari teknik ini adalah tingkat keberhasilan tinggi, tetapi pengerjaannya agak merepotkan, karena batang bawah harus selalu didekatkan kepada cabang pohon induk yang kebanyakan berbatang tinggi. Kerugian lainnya bahwa penyusuan hanya dapat dilakukan dalam jumlah sedikit atau terbatas, tidak sebanyak sambungan atau menempel dan akibat dari penyusuan bisa merusak tajuk pohon induk. Oleh karena itu penyusuan hanya dianjurkan terutama untuk perbanyakan tanaman yang sulit dengan cara sambungan dan okulasi.
Jenis-jenis teknik penyusuan:
  1. Susuan duduk untuk mendekatkan batang bawah dengan cabang induknya dibuat parapara dari bambu. Batang bawah kemudian ditaruh diatas para-para dan disusukan dengan cabang pohon induk.
  2. Susuan gantung disebut demikian karena batang bawah yang akan disusukan didekatkan dengan cabang pohon induk dengan posisi menggantung. Dan polybag batang bawah kita ikatkan pada cabang batang atas.
4.    Cangkok
Teknik perbanyakan vegetatif dengan cara pelukaan atau pengeratan cabang pohon induk dan dibungkus media tanam untuk merangsang terbentuknya akar. Pada teknik ini tidak dikenal istilah batang bawah dan batang atas. Teknik ini relatif sudah lama dikenal oleh petani dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, karena pada cara mencangkok akar tumbuh ketika masih berada di pohon induk.
5.     Stek
Stek (cutting atau stuk) atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru.

Kamis, 12 Maret 2020

PRODUKSI ASAP CAIR 
DARI PEMBUATAN ARANG TEMPURUNG KELAPA

ASAP CAIR
Apa itu asap cair?
Asap cair atau liquid smoke merupakan hasil dari destilasi atau pengembunan dari uap / asap dari pembakaran arang.
Asap cair mengandung berbagai komponen kimia yg dikelompokkan pada senyawaan asam,fenol,alkohol,netral dan berbagai macam unsur hara.Asap cair atau juga disebut CUKA KAYU adalah cairan yg berbau menyengat,berwarna kekuningan- coklat tua dan ramah lingkungan karna berasal dari bahan alami.


            Tempurung kelapa sebagai bahan baku pembuatan asap cair 
Asap cair  suatu hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung ligninselulosahemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Bahan baku yang banyak digunakan antara lain berbagai macam jenis kayu, bongkol kelapa sawittempurung kelapasekamampas atau serbuk gergaji kayu dan lain sebagainya. Selama pembakaran, komponen dari kayu akan mengalami pirolisa menghasilkan berbagai macam senyawa antara lain fenolkarbonilasamfuranalkohollaktonhidrokarbonpolisiklik aromatik dan lain sebagainya.
Tempurung kelapa merupakan limbah pertanian yang belum termanfaatkan secara optimal, hanya sebagian kecil yang diolah menjadi media tanam dan arang aktif. Penanganan sabut dan tempurung kelapa diperkirakan dapat menjadi solusi terbaik dengan mengkonversinya menjadi asap cair yang pirolisis dan distilasi.

 Proses pembakaran tempurung sehingga menghasilkan asap yang ditampung di plastik hingga berkeringat dan keluar air

Pirolisis merupakan proses pemanasan suatu zat tanpa adanya oksigen sehingga terjadi penguraian komponen-komponen penyusun tempurung kelapa, sedangkan destiliasi merupakan pemurnian dengan pemanasan dan penguapan.

Hal ini merupakan konsep bioindustri yang zero waste, sehingga semua hasil dari asap cair dapat dimanfaatkan yang dimulai dari grade 1, grade 2 dan grade 3. Grade 1 memiliki kualitas yang tertinggi dibandingkan dengan graksi asap cair lainnya, karena memiliki kandungan fenol dan asam organik yang paling tinggi. Asap cair grade 1 dengan dosis 1,--% dapat digunakan sebagai pengawet nira kelapa yang disadap selama 12 jam, sehingga memiliki pH >6 dan dapat dijadikan gula yang bermawarna cokelat cerah dan disukai.

Asap cair grade 2 dengan tingkat konsentrasi 12,5% pada pH 1,2 layak dikembangkan menjadi takaran aplikasi bioinsektisida untuk wereng cokelat dan 3 ml/l untuk walang sangit. Sedangkan asap cair grade 3 dengan dosis 20 ml/kg untuk karet kering sebagai penghilang bau busuk pada bahan olahan lump atau karet.

Diharapkan dengan pemanfaatan limbah kelapa seperti tempurung kelapa yang diolah menjadi asap cair mampu memberi nilai tambah bagi kelompok tani, pengusaha, maupun stakeholder lainnya dan berkontribusi terhadap bioindustri pertanian.
MANFAAT ASAP CAIR
1.      Sebagai penghilang bau dan penghambat jamur ,bakteri atau telur telur lalat
~ Bau membandel dari kotoran dan urien ternak atau hewan peliharaan.
~ bau dari kotoran hewan2 peternakan bebek,ayam,puyuh dll nya.
~ bau sampah
kelebihan asap cair ini adalah murah,karna 1lt asap cair dicampur 50lt air disemprotkan ke kandang atau sumber bau,nyata efektif menghilangkan bau 7-9 hari dan tidak berdampak bagi hewan peliharaan.
2.      Sebagai bahan pupuk cair organik
kandungan asap cair dapat menghambat pertumbuhan hama,jamur dan bakteri,juga dapat meningkatkan jumlah mikroba yg berguna bagi tanah dan tanaman.
caranya dosis cuka kayu 0.1% dicampurkan/ disemprotkan kedalam media tanam/ persemeian sebelum benih ditanam atau disemaikan.
3.      Sebagai pemanfaatan limbah tempurung kelapa
Dengan dimanfaatkannya limbah tempurung akan berdampak pada berkurangnya pencemaran lingkungan dan termanfaatkannya limbah yang tidak terpakai

     Hasil asap cair di kemas dalam kemasan 1 liter dan 5 liter

Rabu, 19 Februari 2020

PENDAMPINGAN PEMBUATAN KEBUN BIBIT RAKYAT



Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) di lahan kritis, lahan kosong dan lahan tidak produktif merupakan salah satu upaya pemulihan kondisi DAS yang kritis. Upaya tersebut memberikan hasil antara lain berupa kayu, getah, buah, daun, bunga, serat, pakan ternak, yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat (pro growth) sekaligus penyerapan tenaga kerja (pro job) dan mengurangi tingkat kemiskinan (pro poor) serta menurunkan emisi karbon (pro environment).
Salah satu kegiatan untuk mendukung program rehabilitasi hutan dan lahan dengan pemberdayaan masyarakat adalah pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR). KBR dimaksud adalah untuk menyediakan bibit tanaman kayu-kayuan atau tanaman serbaguna (MPTS) dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mendukung pemulihan fungsi dan daya dukung DAS. Kebun Bibit Rakyat dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok masyarakat. Bibit hasil Kebun Bibit Rakyat digunakan untuk merehabilitasi hutan dan lahan kritis serta kegiatan penghijauan lingkungan.
Keinginan masyarakat untuk menanam tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna dalam berbagai upaya rehabilitasi hutan dan lahan, dibatasi oleh ketidakmampuan mereka untuk memperoleh bibit yang baik. Sehingga masyarakat cenderung menanam tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna dari biji atau benih asalan yang tidak jelas asal usulnya, sehingga tanaman tersebut memerlukan waktu lebih panjang untuk berproduksi dan apabila berproduksi kualitas dan kuantitas hasilnya kurang memuaskan. Bertolak dari pengalaman tersebut, dipandang perlu untuk merumuskan kegiatan penyediaan bibit yang lebih baik berbasis pemberdayaan masyarakat dengan nama Kebun Bibit Rakyat.


Kabupaten Ponorogo adalah sebuah daerah di wilayah Provinsi Jawa Timur yang berjarak sekitar 200 km sebelah barat daya ibu kota provinsi, dan sekitar 800 km sebelah timur ibu kota negara Indonesia. Kabupaten Ponorogo terletak pada 111o 7’ hingga 111o 52’ BT dan -7o 49’ hingga -8o 20’ LS.
Wilayah Kabupaten Ponorogo secara langsung berbatasan dengan Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Nganjuk di sebelah utara. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pacitan. Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri.
Luas wilayah Kabupaten Ponorogo 1.371,78 km2, yang terdiri dari 21 kecamatan serta terbagi dalam 307 kelurahan / desa.
Kondisi topografi Kabupaten Ponorogo bervariasi, mulai dataran rendah sampai pegunungan. Berdasarkan data yang ada, sebagian besar wilayah Kabupaten Ponorogo yaitu 79% berada pada ketinggian < 500 meter dpl., 14,4 % berada pada ketinggian antara 500 s/d. 700 meter dpl., dan sisanya 6,6% berada pada ketinggian > 700 meter dpl.
Secara topografis dan klimatologis, Kabupaten Ponorogo merupakan dataran rendah beriklim tropis yang mengalami dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, dengan suhu udara berkisar antara 18o s/d. 31o C.
Bila dilihat menurut luas wilayah, kecamatan yang memiliki wilayah terluas (di atas 100 km2) secara berturut-turut adalah Kecamatan Ngrayun, Kecamatan Pulung, dan Kecamatan Sawoo.


Maksud dari pada Kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) adalah untuk memfasilitasi kelompok masyarakat atau petani yang ingin mengembangkan pembibitan, terutama di wilayah desanya. Kelompok pembibitan tersebut dapat memilih tanaman apa saja yang cocok (secara teknis) dan sangat  diminati oleh masyarakat.


Adapun tujuan dari pada kegiatan Kebun Bibit Rakyat adalah untuk mencegah, menanggulangi bencana, penyedia Oksigen (O2), penyerap racun udara terkontaminasi, dan secara tidak langsung akan mempengaruhi terhadap kesejahteraan masyarakat.



   PELAKSANAAN KEGIATAN KEBUN BIBIT RAKYAT

Kelompok pelaksana kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) Tahun Anggaran 2019 ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Solo Nomor : SK.137/BPDASHL.Slo/Prog/DAS-1/5//2019, tanggal 31 Mei 2019, perihal Penetapan Lokasi dan Pelaksanaan Kebun Bibit Rakyat (KBR) Tahun 2019 Wilayah Kerja Balai Pengelolaan DASHL Solo di Kabupaten Ponorogo.
Berdasarkan Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran DIPA BPDASHL Solo Nomor : SK.65/BPDASHL.Slo/EVL/DAS.1/7/2019 tanggal 2 Jui 2019 tentang Penetapan Petugas Pendamping Lapangan Kebun Bibit Rakyat (PLKBR) Wilayah Fasilitasi Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Solo Tahun 2019 serta adanya tindak lanjut dari Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Wilker Ponorogo, maka kelompok dan lokasi yang kami dampingi untuk kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) Tahun 2019 adalah sebagai berikut :
1.      KTH Alas Lestari, Desa Ngrogung, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo;
(Lokasi : Dusun Pule, koordinat 07o 48’ 07,51,88” LS 111o 36’ 21,19” BT)
2.      KTH Rimba Mulya Lestari, Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo;
(Lokasi : Dusun Kliyur, koordinat 07o 54’ 55,49” LS 111o 18’ 18,26” BT)
3.      KTH Sumber Makmur Lestari, Desa Tanjunggunung, Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo;
(Lokasi : Miri, koordinat 07o 33’ 50,30” LS 110o 46’ 1,32” BT)
4.      KTH Margo Mulyo Lestari, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo;
(Lokasi : Dusun Ngindeng II, koordinat 07o 556’ 34,02” LS 111o 33’ 31,20” BT) dan
5.      KTH Subur Lestari, Desa Munggung, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.
(Lokasi : Dusun Tosari, koordinat 07o 51’ 48,84” LS 111o 38’ 11,28” BT).
Jenis dan jumlah bibit Kebun Bibit Rakyat (KBR) di masing-masing lokasi sebagai berikut :
No.
Nama Kelompok
Jenis dan Jumlah Bibit (btg)
Sengon
Gmelina
Durian
Jambu Mete
Mengkudu
Alpukat
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
KTH Alas Lestari
25.000
5.000




2.
KTH Rimba Mulya Lestari
20.000



8.000
2.000
3.
KTH Sumber Makmur Lestari
20.000


10.000


4.
KTH Margo Mulyo Lestari
19.000
10.000



1.000
5.
KTH Subur Lestari
25.000

2.500


2.500









Jumlah (btg)
109.000
15.000
2.500
10.000
8.000
5.500




Pembuatan bedeng persemaian

Penyemaian benih sengon

Pemeliharaan dan penggeseran bibit

Pembagian bibit ke masyarakat